Kamis, 31 Agustus 2023

Berdamai dengan Ketidaksempurnaan

*Berdamai dengan Ketidaksempurnaan*

Dalam kehidupan, termasuk bisnis, terkadang ada banyak persoalan yang muncul, baik suka atau tidak. Memang benar bahwa hadirnya persoalan adalah untuk menempa diri. Namun, nggak jarang tiba-tiba kita stuck, nge freeze dan bingung, nggak tau mau melakukan apa. Apalagi kalau persoalan justru muncul dari dalam keluarga.

Richard Carlson, seorang penulis Amerika, psikoterapis, dan pembicara motivasi, dalam bukunya yang berjudul *Don't Sweat the Small Stuff and it's all Small Stuff*, memberikan gambaran mengenai cara kita memandang sebuah persoalan. 

Dengan cara yang sederhana, dia mengajarkan kita untuk membangun spiritual dan emotional quotient yang dibutuhkan agar mampu mengambil sikap yang lebih baik dan mengubah kebiasaan lama yang “reaktif” menjadi kebiasaan baru yang mampu “mencari perspektif lain”.

Kita adalah makhluk yang tidak sempurna karena kesempurnaan hanya milik-NYA. Dalam buku ini, pembaca diajak untuk menyadari bahwa ada realitas yang tidak perlu dipaksakan untuk diubah. Misal, pasangan. 

Mengubah sesuatu yang sebenarnya tidak perlu diubah hanya akan menambah bahkan memperpanjang masalah. Contoh : Kita menaruh harapan kepada pasangan agar berubah sesuai dengan yang kita harapkan. Nah, harapan ini akan menjadi masalah, sebab akan berujung pada kekecewaan, depresi, stress, kebencian, konflik, sampai rusaknya sebuah hubungan. 

*Jangan membuat masalah kecil jadi masalah besar*, begitu menurut Carlson. Ada orang yang akan kita temui yang memang ditakdirkan untuk hadir di hidup kita untuk memberi kita pelajaran.

Akan ada orang yang ngeselin kamu, yang memang orang itu hadir untuk memberi kamu pelajaran. Contoh dalam bisnis : Ada mitra yang ngeselin. Mungkin, memang kita ditakdirkan bertemu orang kayak gitu untuk mengajarkan kita kesabaran.

Ada mitra yang awalnya ketemu, penampilannya acak kadul. Mungkin kita sedang diajarkan untuk tidak mudah menilai orang lain. 

Prinsipnya adalah, mau mengetahui apa yang akan diajarkan orang-orang dalam hidup kita. Karena setiap persoalan pasti mendatangkan pelajaran. 

Contoh lain, ada pembeli yang udah chat lama, beli kagak. Bisa juga ada calon pembeli yang udah nanya ke kita sebulan, dua bulan, tau-tau belinya di orang lain. Hal itu bikin kita kesal, itu manusiawi. Dan untuk mengurangi rasa kesal tersebut adalah dengan bertanya ke diri sendiri, "Apa yang mau orang ini ajarkan ke saya ya? Ilmu apa yang dia mau berikan?"

Jadi, sebenarnya yang kita lakukan adalah mengubah pertanyaan dari, "Ilmu apa yang mau dia berikan? Apa yang mau dia ajarkan ke saya?" Dan lain-lain, untuk mengubah framing kita terhadap sebuah persoalan sambil menunggu dengan sabar. Hehe. 

In syaa Allah ini mudah jika sudah rutin diterapkan untuk kita berdamai dengan ketidaksempurnaan diri kita sebagai makhluk. Moga makin positif pikirannya, makin solid timnya. Aamiin..

Sekian, in syaa Allah bermanfaat. 

Yanti Terapis Hati